MAKALAH TANAMAN TALAS
KATA
PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan ke hadirat
ALLAH SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan kepada kita semua, sehingga
kita dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dan khusus untuk penulis sendiri
bisa menyusun makalah ini.
Makalah ini penulis susun dengan tujuan sebagai
salah satu tugas dari mata kuliah Budidaya Tanaman Pangan yang berkaitan
tentang Tanaman Umbi-umbian- Talas (Colocasia esculenta (L) Schoot) juga untuk menambah wawasan khususnya
bagi penulis sendiri.
Dalam membuat makalah ini penulis sangat kekurangan
pengetahuan dan kemampuan, sehingga dalam penulisan makalah ini penulis tidak
luput dari hambatan dan kendala, namun itu bisa penulis hadapi dengan berbagai
bantuan dari beberapa pihak yang akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah
ini.
Untuk kesempurnaan dalam makalah ini, penulis berharap
kepada pembaca kritik dan sarannya yang bersifat membangun dengan harapan akhir
makalah ini berguna untuk kita semua. Amiin.
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR................................................................................................ i
DAFTAR
ISI............................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
1.1.Latar Belakang........................................................................................................ 1
1.2. Tujuan.................................................................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN
2.1. Sejarah Tanaman
Talas........................................................................................... 3
2.2. Botani Tanaman
Talas............................................................................................ 3
2.3. Syarat Tumbuh
Tanaman Talas............................................................................... 4
2.4. Teknik Budidaya.................................................................................................... 5
2.5.
Hama dan Penyakit................................................................................................ 7
2.6.
Panen..................................................................................................................... 9
2.7.
Pasca Panen........................................................................................................... 10
BAB III PENUTUP
3.1.
Kesimpulan............................................................................................................ 11
3.2
Saran....................................................................................................................... 11
DAFTAR
PUSTAKA .................................................................................................
12
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Kemampuan
produksi pangan dalam negeri dari tahun ke tahun semakin terbatas. Agar
kecukupan pangan nasional bisa terpenuhi, maka upaya yang dilakukan adalah
meningkatkan produktivitas budidaya pangan dengan pemanfaatan teknologi dan
upaya diversifikasi pangan. Upaya diversifikasi pangan menjadi sangat penting,
karena semakin terbatas kemampuan produksi pangan nasional.
Dalam rangka
memenuhi kebutuhan pangan karbohidrat dimasa mendatang terdapat berbagai macam
kendala seperti laju pertumbuhan jumlah penduduk yang masih cukup besar,
terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian khususnya lahan sawah
di Pulau Jawa dan di beberapa propinsi di luar Pulau Jawa, dengan iklim yang
kurang menguntungkan di bidang pertanian maupun serangan hama dan penyakit yang
eksplosif, tingkat konsumsi pangan karbohidrat (beras)per kapita per tahun yang
masih meningkat dan lain-lain. Kesemuanya itu akan mengakibatkan semakin
sulitnya penyediaan pangan, lebih-lebih bila masih bertumpu kepada beras semata
(single commodity).
Kebutuhan
karbohidrat dari tahun ke tahun terus meningkat dimana, penyediaan karbohidrat
dari serealia saja tidak mencukupi, sehingga peranan tanaman penghasil
karbohidrat dari umbi-umbian khususnya talas semakin penting. Tanaman talas
merupakan tanaman penghasil karbohidrat yang memiliki peranan cukup strategis
tidak hanya sebagai sumber bahan pangan, dan bahan baku industri tetapi juga
untuk pakan ternak. Oleh karena itu tanaman talas menjadi sangat penting
artinya didalam kaitannya terhadap upaya penyediaan bahan pangan karbohidrat
non beras, diversifikasi/penganekaragaman komsumsi pangan lokal/budaya lokal,
substitusi gandum/terigu, pengembangan industri pengolahan hasil dan
agroindustri serta komoditi strategis sebagai pemasok devisa melalui ekspor.
Di beberapa
daerah/propinsi tanaman talas telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan,
diversifikasi pangan maupun bahan pakan ternak serta bahan baku industri.
Tanaman talas memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena hampir sebagian besar
bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk dikonsumsi manusia.
Tanaman talas yang merupakan penghasil karbohidrat berpotensi sebagai
suplemen/substitusi beras atau sebagai diversifikasi bahan pangan, bahan baku
industri dan lain sebagainya.
Talas mempunyai
manfaat yang besar untuk bahan makanan utama dan substitusi karbohidrat di
beberapa negara termasuk di Indonesia. Selain itu sebagai bahan baku industri
dibuat tepung yang selanjutnya diproses menjadi makanan bayi (di USA) kue-kue
(di Philippina dan Columbia) serta roti (di Brazilia) sementara di Indonesia
dibuat menjadi makanan enyek-enyek, dodol talas, chese stick talas dan juga untuk
pakan ternak (termasuk daun dan batangnya).
Talas mempunyai
peluang yang besar untuk dikembangkan karena berbagai manfaat dan dapat
dibudidayakan dengan mudah sehingga potensi talas ini cukup besar.
1.2.Tujuan
Tujuan dari
pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Budidaya Tanaman Pangan, selain itu juga untuk menambah pengetahuan tentang
tamanan Pangan, khususnya tanaman Talas (Colocasia esculenta (L) Schoot).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Sejarah Tanaman Talas
Talas merupakan tanaman pangan berupa herba
menahun. Talas termasuk dalam suku talas-talasan (Araceae), berperawakan
tegak, tingginya 1 cm atau lebih dan merupakan tanaman semusim atau sepanjang
tahun. Talas mempunyai beberapa nama umum yaitu Taro, Old cocoyam,
‘Dash(e)en’ dan ‘Eddo (e)’. Di beberapa negara dikenal dengan
nama lain, seperti: Abalong (Philipina), Taioba (Brazil), Arvi
(India), Keladi (Malaya), Satoimo (Japan), Tayoba (Spanyol)
dan Yu-tao (China).
Asal mula tanaman ini berasal dari daerah Asia Tenggara,
menyebar ke China dalam abad pertama, ke Jepang, ke daerah Asia Tenggara
lainnya dan ke beberapa pulau di Samudra Pasifik, terbawa oleh migrasi penduduk.
Di Indonesia talas bisa dijumpai hampir di seluruh kepulauan dan tersebar dari
tepi pantai sampai pegunungan di atas 1000 mdpl., baik liar maupun di tanam.
Secara luas diakui bahwa talas-talasan berasal dari areal
rawa dan hutan tropika bercurah hujan tinggi. Domestikasi talasan liar yang
agak atau tidak memiliki rasa menggigit (nonacrid) dicapai melalui seleksi
selama awal budidaya, yang diperkirakan sejak 7000 tahun yang lalu, mungkin
sebelum budidaya padi (Rubatzky, 1998).
2.2. Botani Tanaman Talas
A. Morfologi
Tumbuhan berupa terna, tegak. Sistem
perakaran liar, berserabut, dan dangkal. Batang yang tesimpan dalam tanah
pejal, menyilinder atau membulat, biasanya coklat tua, dilengkapi dengan kuncup
ketiak yang terdapat di atas lampang daun tempat munculnya umbi baru, tunas
atau stolon. Daun memerisai dengan tangkai panjang dan besar. Perbungaan
tongkol dikelilingi oleh seludang dan didukung oleh gagang yang lebih pendek
dari tangkai daun, bunga jantan dan betina kecil, tempatnya terpisah pada
tongkol, bunga betina di bagian pangkal, hijau, bunga jantan pada bagian
atasnya warna putih steril, ujung tongkol dilengkapi dengan organ steril.
Perbuahan seperti kepala yang berisi buah buni yang rapat. Biji membundar
telur.
B. Taksonomi
Taksonomi
sebagian besar talas-talasan layak santap sangat membingungkan, karena perbedaan antar spesies yang
tidak jelas dan karena berbagai nama lokal yang digunakan saling bertukar.
Sebagian besar wilayah produksi memiliki kultivar atau klon lokal yang khas dan
penamaannya sering tidak relevan untuk identifikasi yang tepat.
Beberapa ciri umum genus dapat
dikenali pada talas yang dibudidayakan. Jenis tanaman yang menghsilkan kormus
anak (kormel) disebut “talas” atau “bentul (dasheen)”, yang menghasilkan kormus agak kecil
dengan kormel yang sedikit kecil disebut “keladi (eddoe)”.
Beberapa tipe lain ditanam khusus untuk diambil daun dan tangkai daunnya.
Keunikan
lain adalah bahwa beberapa kultivar ditanama di sawah, sedangkan yang lain di
lahan kering. Kultivar dikelompokkan berdasarkan ukuran tanaman, bentuk dan
ukuran daun, warna daging kormus, bentuk bunga, dan kegunaan dalm masakan.
Perbedaan dalam taraf rasa menggigit adalah sifat lain yang biasa digunakan
untuk membedakan kultivar atau klon.
C.
Klasifikasi
Klasifikasi tanaman talas :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan
berpembuluh)
Super
Divisi : Spermatophyta
(Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta
(Tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida
(berkeping satu / monokotil)
Sub
Kelas : Arecidae
Ordo : Arales
Genus : Xanthosoma
Spesies : Xanthosoma sagittifolium
(L.)
2.3.
Syarat Tumbuh Tanaman Talas
a).Talas tumbuh tersebar di daerah tropis, sub tropis dan di
daerah beriklim sedang. Pembudidayaan talas dapat dilakukan pada daerah
beriklim lembab (curah hujan tinggi) dan daerah beriklim kering (curah hujan
rendah), tetapi ada kecenderungan bahwa produk talas akan lebih baik pada
daerah yang beriklim rendah atau iklim panas.
b).Curah hujan optimum untuk pertumbuhan tanaman talas adalah
175 cm pertahun. Talas juga dapat tumbuh di dataran tinggi, pada tanah
tadah hujan dan tumbuh sangat baik pada lahan yang bercurah hujan 2000 mm/tahun
atau lebih.
c).Selama pertumbuhan tanaman talas menyukai tempat terbuka
dengan penyinaran penuh hingga minimum 11 jam per hari serta tanaman ini mudah
tumbuh pada lingkungan dengan suhu 25-30 °C dan kelembaban tinggi.
d). Tanah yangsangat cocok untuk budidaya tanaman talas adalah
tanah yang memiliki kandungan humus dan air yang cukup dengan pH antara 5,5-
5,6.
e).
Tanaman talas dapat tumbuh pada ketinggian optimal antara 250-1.100 m dpl.
2.4. Teknik Budidaya
Pengolahan Media Tanam Penyiapan
Lahan
Di dalam pengolahan maupun penyiapan lahan, tanahnya harus
gembur dan lepas. Cara pengolahan tanah dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu
pengolahan tanah setelah tanaman padi dan setelah tanaman sayuran. Pengolahan
tanah setelah tanam padi mulai dengan pembabatan jerami. Jerami tersebut
kemudian ditumpuk kemudian di bakar. Tanah dibiarkan beberapa hari, baru
kemudian dicangkul, dihaluskan dan dibuat bedeng-bedengan danpemupukan dasar.
Pengolahan tanah jika talas di tanam setelah tanaman sayuran, dilakukan dengan
menyiangi gulma, mencangkul, membuat bedengbedengan dan pemupukan dasar.
Pembentukan Bedengan Talas biasanya ditanam dalam dua
baris di bedengan selebar 1,2 m, sedangkan panjang bedengan disesuaikan dengan
lebar petakan lahan dengan jarak 45 cm atau berkisar 70 x 70 atau 50 x 70 cm
atau kombinasi yang lain. Pengapuran Talas dapat tahan terhadap tanah
basah tetapi tidak mendapatkan hasil tinggi, tanah harus gembur dan lepas.
Tanah yang bergambut sangat baik, tetapi harus harus diberi 1 ton/ha kapur bila
pH nya di bawah 5,0. Pemupukan. Pemupukan talas dapat dilakukan
dengan pupuk kandang atau pupuk buatan seperti urea, TSP dan KCl atau campuran
ketiganya. Jumlah pupuk yang diberikan tidak banyak, cukup 2 sendok saja (untuk
pupuk buatan) dan dua genggaman untuk pupuk kandang untuk satu tanaman. Setelah
di pupuk, di atasnya kemudian ditambahkan tanah yang dicampur dengan jerami.
Teknik
Penanaman Penentuan Pola Tanam
Jarak tanam talas adalah 75 x 75 cm dan dalam 30 cm atau 70
x 70 cm atau 50 x 70 cm. Keragaman jarak tanam ini biasanya disesuaikan dengan
kondisi tanah dan keadaan musim. Penanaman di lahan sawah cenderung menggunakan
jarak tanam yang lebih rapat dari musim hujan. Hal ini dikarenakan pada musim
panas penyinaran cahaya matahari dapat berlangsung sepanjang hari sehingga
dengan jarak tanam yang rapat pun kelembaban udara di sekitar tanaman tetap
optimum. Jika pada musim hujan digunakan jarak tanam yang rapat maka tanaman
akan kurang menyerap sinar matahari dan kelembaban di sekitar tanaman menjadi
tinggi. Hal ini akan meningkatkan resiko serangan penyakit.
Cara
Penanaman
Penanaman talas sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan
atau bila curah hujan merata sepanjang tahun. Cara penanaman bibit talas, yaitu
meletakkan bibit talas tegak lurus di tengah-tengah lubang, kemudian ditimbun
sedikit dengan tanah agar dapat berdiri tegak. Penimbunan ini kira-kira 7 cm,
sehingga lubang tanam tidak seluruhnya tertutup oleh tanah.
Pemeliharaan
Tanaman
Penyiangan dan Pembubunan Penyiangan biasanya dilakuakn pada
umur 1 bulan setelah tanam. Penyiangan perlu dilakukan agar tanaman bebas dari
gangguan gulma yang dapat menjadi pesaing dalam penyerapan unsur-unsur hara.
Untuk memperoleh umbi yang besar dan bermutu maka perlu penyiangan terhadap
rumput-rumput liar di sekitar tanaman. Pembubunan perlu dilakukan untuk menutup
pangkal batang dan akarakar bagian atas agar tanaman lebih kokoh dan tahan oleh
terpaan angin. Pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan.
Pemupukan
Pemupukan dasar dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah
yaitu mencampur sebanyak 1 ton pupuk kandang/hektar. Sedangkan pemupukan
pertama dilakukan 1 bulan setelah bibit di tanam, yaitu dengan menggunakan
sebanyak 100 kg urea dan 50 kg TSP per hektar. Aplikasi pemupukan yaitu dengan
cara membuat lubang pupuk disamping lubang tanam 3 cm. Pemupukan kedua dan
ketiga dilakukan pada umur tanaman 3 bulan dan umur 5 bulan masing-masing
menggunakan urea sebanyak 100 kg per hektar. Aplikasi dapat dilakukan dengan
membuat larikan disamping baris tanaman sejauh 7 cm pada pemupukan umur 3 bulan
dan 10 cm pada pemupukan umur 5 bulan. Pengairan dan Penyiraman
Talas membutuhkan tanah yang lembab dan cukup air. Sehingga bila tidak tersedia air yang cukup atau mengalami musim kemarau yang panjang, tanaman talas akan sulit tumbuh. Musim tanam yang cocok untuk tanaman talas ini ialah menjelang musim hujan, sedangkan musim panen bergantung kepada kultivar yang di tanam.
Talas membutuhkan tanah yang lembab dan cukup air. Sehingga bila tidak tersedia air yang cukup atau mengalami musim kemarau yang panjang, tanaman talas akan sulit tumbuh. Musim tanam yang cocok untuk tanaman talas ini ialah menjelang musim hujan, sedangkan musim panen bergantung kepada kultivar yang di tanam.
2.5
HAMA DAN
PENYAKIT
a.
Hama Serangga aphis gossypii (Hemiptera: Aphididae)
Baik nimfa maupun dewasa yang bersayap dan tidak bersayap
mengisap cairan daun.
Gejala: daun menjadi agak keriting. Aphis mengeluarkan cairan madu, yang dapat menarik semut. Serangga ini tersebar di seluruh dunia kecuali di daerah dingin seperti di Siberia dan Kanada. Selain talas hama ini juga menyerang melon, timun, labu-labuan serta kapas.
Pengendalian: dengan insektisida pada tanaman talas dinilai kurang ekonomis, kecuali apabila tingkat serangan sangat tinggi pada tanaman muda. Insektisida yang digunakan adalah carbaryl, diazinon dimetoat dan malation cukup efektif untuk mengendalikan hama tersebut.
Gejala: daun menjadi agak keriting. Aphis mengeluarkan cairan madu, yang dapat menarik semut. Serangga ini tersebar di seluruh dunia kecuali di daerah dingin seperti di Siberia dan Kanada. Selain talas hama ini juga menyerang melon, timun, labu-labuan serta kapas.
Pengendalian: dengan insektisida pada tanaman talas dinilai kurang ekonomis, kecuali apabila tingkat serangan sangat tinggi pada tanaman muda. Insektisida yang digunakan adalah carbaryl, diazinon dimetoat dan malation cukup efektif untuk mengendalikan hama tersebut.
b.
Ulat
heppotion calerino (Lepidoptera: Sphingidae)
Gejala: ulat berukuran besar dan sangat rakus yang dapat
memakan seluruh helai daun, bahkan populasi tinggi dapat makan pelepah daun
juga, sehingga tanaman menjadi gundul. Selain talas ulat juga merusak tanaman
kacang hijau, ubi jalar dan gulam. Serangga ini tersebar di negara-negara
tropika dan sub tropika, Australia dan Pasifik.
Pengendalian: mengambil dan memusnahkan ulat tersebut. Selain itu, karena kepompong berada di dalam tanah, maka pembajakan lahan setelah panen dapat memusnahkan hama tersebut. Usaha pengendalian dengan insektisida telah dilakukan di Papua Nugini yaitu dengan Carbaryl jika kerusakan mencapai 50 %.
Pengendalian: mengambil dan memusnahkan ulat tersebut. Selain itu, karena kepompong berada di dalam tanah, maka pembajakan lahan setelah panen dapat memusnahkan hama tersebut. Usaha pengendalian dengan insektisida telah dilakukan di Papua Nugini yaitu dengan Carbaryl jika kerusakan mencapai 50 %.
c.
Serangga
agrius convolvuli (kupu-kupu: Sphingidae)
Serangga ini tersebar di Afrika, Australia, Bangladesh, Burma,
Cina Selatan, Eropa Selatan, India, Indonesia, Malaysia, Selandia Baru,
kepulauan-kepulauan di pasifik dan Papua Nugini (Anonymous, 1986). Ulat yang
berukuran a populasi yang tinggi, ulat juga makan tangkai daun sehingga tanaman
menjadi gundul. Selain tanaman talas ini juga merusak kacang hijau, ubi jalar
dan gulma (Kalshoven, 1931). besar sangat rakus memakan daun. Defoliasi dimulai
dari tepi daun.
Pengendalian: kepompong terbentuk di dalam tanah, maka
pembajakan tanah setelah panen dapat memusnahakan hama tersebut. Selain itu
pengambilan ulat dan memusnahkannya merupakan cara pengendalian yang efektif
untuk areal kecil. Usaha pengendalian dengan insektisida yang efektif hendaknya
dilakukan pada saat ulat masih kecil dengan carbaryl 0,2 % (Anonymous, 1986).
d.
Serangga
tarophagus proserpina (Hemiptera: Delphacidae)
Gejala: serangga dewasa dan nimfa mengusap cairan pelepah
daun, sehingga warnanya berubah menjadi coklat. Serangga ini tersebar di
kepulauan Pasifik, Hawai, Indonesia, Philipina, Kepulauan Ryuku dan Quensland. Pengendalian: diintroduksikan sejenis pemangsa
yaitu Cyrtorthinus pulus atau dengan serangga yang dinilai efektif untuk
mengendalikan hama tersebut yaitu carbaryl, malation, dan tri-chlorform.
e.
Serangga
bemisia tabaci (Hemiptera: Aleurodidae)
Serangga ini tersebar di daerah tropika dan sub tropika.
Nimfa dan dewasanya di permukaan bawah daun, dan mengisap cairan daun.
Gejala: pada serangan yang berat daun menjadi kering,
pertumbuhan terhambat dan tanaman menjadi kerdil. Selain talas, B. tabaci juga
menyerang tanaman kedelai, ubi kayu, terungterungan dan kacang-kacangan lain.
Pengendalian: menggunakan cabaryl, malation, dan tri-chlorform.
Pengendalian: menggunakan cabaryl, malation, dan tri-chlorform.
f.
Ulat
spodoptera litura (kupu-kupu: Noctuidae
Gejala: daun yang terserang oleh kelompok ulat yang masih
kecil akan kehilangan lapisan epidermisnya sehingga menjadi transparan, dan
akhirnya kering. Ulat yang lebih besar akan tersebar dan masing-masing makan
daun. Defoliasi yang di sebabkan ulat yang besar mirip dengan kerusakan yang
disebabkan oleh Agriusconvolvuli. Selain talas ulat juga menyerang tanaman
jarak, tembakau, tomat, jagung, ubi jalar, kubis, cabe dan kacang-kacangan.
Diantara inang tersebut, daun talas yang paling disukai, oleh karena itu dapat
dimanfaatkan sebagai media pembiakan massal ulat tersebut untuk tujuan
penelitan.
Pengendalian: dengan insektisida dilakukan apabila kerusakan
telah mencapai 50 % dengan insektisida carbaryl dan dichorvos. Selain itu
monokrotofos, kuinalfos dan endosulfan juga efektif untuk mengendalikan S.
litura. Pengendalian lebih efektif jika dilakukan pada saat ulat masih kecil.
g.
Serangga
tetranychus cinnabarinus (Acarina: Tetranichidae)
Gejala: helai daun yang terserang nampak bintik-bintik putih
atau kuning, karena serangga tersebut mengisap cairan daun. Apabila populasi
sangat tinggi daun kelihatan memutih, kemudian layu dan mati. Apabila diamati
nampak banyak sekali tunggau yang berwarna merah terletak di permukaan bawah
daun. Tunggau disebarkan oleh manusia dan angin.
Pengendalian: pestisida azodrin, caerol, galecron, plictron,
omite dan trition. Galecron dan plictron mempunyai residu yang panjang dan juga
sebagai ovisida. Fungisida dapat juga untuk mengendalikan tungau yaitu Du Ter
dan benlate.
h.
Hepialiscus
sordida (kupu-kupu: Hepialidae)
Gejala: daun yang terserang menjadi berlubang dengan garis
tengah 5-10 cm, dan di isi oleh kotorannya. Pada serangan berat seluruh umbi
terserang sehingga tinggal pangkal batangnya saja, sehingga tanaman mudah di
cabut. Tanaman yang terserang pertumbuhannya agak kurang tegar dibanding dengan
tanaman sehat. Kerugian yang disebabkan oleh hama ini cukup besar pada lahan
kering. Serangan meningkat apabila petani menggunakan pupuk kandang. Pengendalian: belum ada.
Penyakit
a. Penyakit hawar daun(Phytophtora colocasiae)
Gejala: terdapat bercak kecil berwarna kehitaman, kemudian
membesar menjadi hawar. Bagian daun yang terserang mengering, pada serangan
berat seluruh daun mengering.
Pengendalian: menanam varietas tahan. Penyaringan klon-klon merupakan salah satu tahapan dalam pembentukan varietas.
Pengendalian: menanam varietas tahan. Penyaringan klon-klon merupakan salah satu tahapan dalam pembentukan varietas.
2.6. P A N E N
Ciri dan Umur Panen
Pemanen talas dilakukan setelah tanaman berumur 6-9 bulan,
tetapi ada yang memanennya setelah berumur 1 tahun, dan ada pula kultivar yang
4-5 bulan sudah dapat dipanen; sebagai contoh: talas genjah masak cepat, talas
kawara 5 bulan, dan talas lenvi dan talas dalam. Misalkan di kota Bogor ada
talas bentul, dipanen setelah berumur 8-10 bulan dengan umbi yang relatif lebih
besar dan berwarna lebih muda dan kekuning-kunigan dan masih ada lagi
talas-talas lain, seperti: talas sutera yang dipanen pada umur 5-6 bulan, yang
umbinya berwarna kecoklat-coklatan yang dapat berukuran sedang sampai besar dan
masih banyak lagi talas yang ada di bogor (talas mentega atau talas gambir,
talas ketan, dan talas balitung).
Cara Panen
Pemanenan dilakukan dengan cara menggali umbi talas, lalu
pohon talas dicabut dan pelepahnya di potong sepanjang 20-30 cm dari pangkal
umbi serta akarnya dibuang dan umbinya di bersihkan dari tanah yang melekat.
Periode Panen
Masa panen talas perlu mendapat perhatian yang cermat sebab
waktu panen yang tidak tepat akan menurunkan kualitas hasil. Panen yang terlalu
cepat akan menghasilkan talas yang tidak kenyal dan pulen, sebaliknya jika
panen terlambat akan menghasilkan umbi talas yang terlalu keras dan liat. Talas
pada lahan sawah dirotasikan dengan tanaman padi dan jenis sayuran lainnya.
Tanaman padi ditanam satu atau dua kali pada saat musim hujan yaitu sekitar
bulan September sampai Januari. Pada musim kemarau (bulan Februari sampai Mei)
lahan sawah ditanami sayuran kemudian talas sampai bulan Desember atau Januari
2.7. PASCA PANEN
Pengumpulan
Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman
dan mudah dijangkau oleh angkutan.
Penyortiran dan Penggolongan
Pemilihan atau penyortiran umbi talas sebenarnya dapat
dilakukan pada saat pencabutan berlangsung. Akan tetapi penyortiran umbi talas
dapat dilakukan setelah semua pohon dan ditampung dalam suatu tempat.
Penyortiran dilakukan untuk memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari
kulit umbi yang segar serta yang cacat terutama terlihat dari ukuran besarnya
umbi serta bercak hitam/garisgaris pada daging umbi.
Pengemasan dan Pengangkutan
Pengemasan umbi talas bertujuan untuk melindungi umbi dari
kerusakan selama dalam pengangkutan. Untuk pasaran antar kota/dalam negeri
dikemas dan dimasukkan dalam karung-karung goni atau keranjang terbuat dari
bambu agar tetap segar.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Asal mula tanaman Talas berasal dari
daerah asia tenggara, menyebar ke China dalam abad pertama, ke Jepang, ke
daerah Asia Tenggara lainnya dan ke beberapa pulau di Samudra Pasifik, terbawa
oleh migrasi penduduk. Di Indonesia talas bisa dijumpai hampir di seluruh
kepulauan dan tersebar dari tepi pantai sampai pegunungan di atas 1000 mdpl.,
baik liar maupun di tanam.
Tumbuhan berupa terna, tegak. Sistem
perakaran liar, berserabut, dan dangkal. Batang yang tesimpan dalam tanah
pejal, menyilinder atau membulat, biasanya coklat tua, dilengkapi dengan kuncup
ketiak yang terdapat di atas lampang daun tempat munculnya umbi baru, tunas
atau stolon.
Curah hujan optimum
untuk pertumbuhan tanaman talas adalah 175 cm pertahun. Talas
juga dapat tumbuh di dataran tinggi, pada tanah tadah hujan dan tumbuh sangat
baik pada lahan yang bercurah hujan 2000 mm/tahun atau lebih.
3.2. Saran
Semoga dengan adanya makalah ini dapat
menjadi bahan bacaan bagi yang membutuhkan dan masyarakat lebih mengena serta
tahu begitu banyak keuntungan dari tanaman rebung Talas ini.
DAFTAR PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar